Tentang Perempuan, Laki-Laki, Dan Cerita Dibalik Punggung Mereka Masing-Masing.
Oleh: Adila F.
![]() |
| Source : Google |
- Perempuan
Masih disini,
menemaninya dengan segenap gegap gempita. Bahagia yang kelewat batas, sampai
sering kali aku lupa, ia hadir hanya menoreh luka, di tempat yang sama. Dia
masih sama, dua tahun berjalan tak banyak yang berubah. Caranya bercerita,
tertawa, bercanda, berjalan, semua masih sama.
Aku disini lagi,
menemaninya walau hanya sekedar mengobrol. Dia masih sama, datang padaku saat
ia merasa sepi, dan pergi saat aku butuh ia disini. Datang dan pergi seenaknya.
Dia melakukannya berulang kali, dan sebut saja aku bodoh sebab walau begitu aku
tetap setia menemani.
Kami berdua sering
melewatkan waktu bersama, lebih sering dia yang meminta aku menemaninya,
sekedar memilih buku, menemaninya makan siang, menemaninya bercerita di caffee
hingga larut walaupun esok paginya aku harus kerja. Atau seperti 30 menit yang
lalu, tiba-tiba ia menelfonku dan berkata “ Ra, bisa ketemu sekarang nggak? Aku
lagi di D’ekspresso, caffee deket tempat kerjamu. Temenin aku nylesein deadline
buat besok dong, sekalian nemenin aku ngobrol”. Atau dengan sekonyong-konyong
dia bilang “Ra, lagi dimana? Makan siang bareng yuk, 10 menit lagi aku jemput
kamu di kantor”. Dan tentu saja aku tidak bisa menolak. Walapun sudah barang
pasti selepas pertemuan-pertemuan itu tidak akan ada percakapan lagi, entah via
chat, sms, ataupun telfon. Walaupun hanya sebatas ucapan selamat malam atau
kalimat basa-basi seperi; kamu lagi apa?. Tak pernah sekalipun. Dia hanya akan
mengubungiku apabila dia butuh aku disana untuk menemaninya. Dan apa bila aku
yang memulai percakapan lewat chat atau sms jawabannya terkesan dingin dan tak
bersahabat. Padahal saat tengah bercerita di depanku ia sangat hangat dan
menyenangkan.
Dia, laki-laki yang ada
dihadapanku, dan sudah lebih dari dua tahun aku kagumi. Laki-laki yang setiap
malam aku hidupkan dalam mimpi. Laki-laki yang hangat namun dapat seketika
berubah menjadi seperti bongkahan es. Dingin. Laki-laki yang selalu menghilang
selepas pertemuan dan perbincangan hangat. Laki-laki yang sejak 30 menit lalu
masih asik bercerita dan tak bosan-bosannya aku pandangi.
“Re, bisakah kau jangan
menghilang lagi setelah perbicangan ini berakhir? I don’t wanna lose you. I
love you, Reindra.” ucapku dalam hati.
*****
- Laki-laki
Masih disini, ditemani
senyumnya yang dapat membuat jantungku berdegup lebih cepat berkali lipat. Ada
bahagia yang tak dapat dieja satu persatu lewat aksara. Ia dapat membuat hariku
lebih mudah hanya dengan satu senyuman. Dua tahun berjalan ia masih sama,
cantik, apa adanya, manis, tawanya, suaranya yang menenangkan hanya mungkin
rambutnya sekarang nampak panjang, membuatnya terkesan lebih anggun.
Aku disini lagi,
ditemani senyumnya, dua cangkir kopi, dan obrolan hangat dengan topik yang
ngalor-ngidul. Entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan hadirnya. Ada rasa
hangat ketika mendengar suaranya. Ada bahagia yang entah dari mana datangnya
saat mendengar tawanya. Yang aku tahu, aku hanya ingin melihatnya sesering yang
aku bisa. Aku sering memintanya menemaniku melakukan hal yang sebenarnya bisa aku
lakukan sendiri, itu karena aku sedang merindukannya. Aku sadah sering
merepotkan dia, hanya untuk mengobati rinduku. Egois memang.
Aku terlalu pengecut walaupun
hanya sekedar memulai percakapan lewat chat atau telfon. Anadikan saja ia tahu
bahwa setiap kali ia memulai percakapan lewat chat atau pun telfon, aku sangat,
sangat bahagia. Namun bodohnya aku, aku tak tahu harus bagaimana, yang ada aku
justru bertambah rindu dan ujung-ujungnya aku kesal dengan diriku sendiri. Itu
sebabnya aku lebih memilih membuat alasan apapun asalkan aku bisa melihat
wajahnya.
Dia, perempuan yang
memiliki senyum paling candu. Yang selalu menyusupkan rindu seusai temu. Dia,
perempuan yang ada di hadapanku, yang sedari tadi masih mendengarkan ceritaku
sambil menatapku dengan sepasang matanya yang sayu.
“ Jangan pernah
palingkan pandangan itu, aku tak pernah puas mengagumi pesonamu. Aku sudah
jatuh kepada segalamu.” suara dari dalam hatiku dan berharap ia mendengarnya.
Aku, laki-laki pengecut
yang hanya berani bersembunyi dibalik kedok “teman” selama bertahun-tahun karna
takut dia tak memiliki perasaan yang sama. Laki-laki yang takut suatu saat
terbangun dan sudah tak ada lagi senyumnya disampingnku.
“Ra, bisakah esok kau
kembali hadir setelah percakapan ini berakhir? Rinduku butuh tawamu yang candu.
Aku mencintaimu, Naira.” ucapku dalam hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar