Minggu, 26 Juli 2015

Melankolia; 1


Tentang Perempuan, Laki-Laki, Dan Cerita Dibalik Punggung Mereka Masing-Masing.

Oleh: Adila F.

Source : Google



  •  Perempuan
Masih disini, menemaninya dengan segenap gegap gempita. Bahagia yang kelewat batas, sampai sering kali aku lupa, ia hadir hanya menoreh luka, di tempat yang sama. Dia masih sama, dua tahun berjalan tak banyak yang berubah. Caranya bercerita, tertawa, bercanda, berjalan, semua masih sama.
Aku disini lagi, menemaninya walau hanya sekedar mengobrol. Dia masih sama, datang padaku saat ia merasa sepi, dan pergi saat aku butuh ia disini. Datang dan pergi seenaknya. Dia melakukannya berulang kali, dan sebut saja aku bodoh sebab walau begitu aku tetap setia menemani.

Kami berdua sering melewatkan waktu bersama, lebih sering dia yang meminta aku menemaninya, sekedar memilih buku, menemaninya makan siang, menemaninya bercerita di caffee hingga larut walaupun esok paginya aku harus kerja. Atau seperti 30 menit yang lalu, tiba-tiba ia menelfonku dan berkata “ Ra, bisa ketemu sekarang nggak? Aku lagi di D’ekspresso, caffee deket tempat kerjamu. Temenin aku nylesein deadline buat besok dong, sekalian nemenin aku ngobrol”. Atau dengan sekonyong-konyong dia bilang “Ra, lagi dimana? Makan siang bareng yuk, 10 menit lagi aku jemput kamu di kantor”. Dan tentu saja aku tidak bisa menolak. Walapun sudah barang pasti selepas pertemuan-pertemuan itu tidak akan ada percakapan lagi, entah via chat, sms, ataupun telfon. Walaupun hanya sebatas ucapan selamat malam atau kalimat basa-basi seperi; kamu lagi apa?. Tak pernah sekalipun. Dia hanya akan mengubungiku apabila dia butuh aku disana untuk menemaninya. Dan apa bila aku yang memulai percakapan lewat chat atau sms jawabannya terkesan dingin dan tak bersahabat. Padahal saat tengah bercerita di depanku ia sangat hangat dan menyenangkan.

Dia, laki-laki yang ada dihadapanku, dan sudah lebih dari dua tahun aku kagumi. Laki-laki yang setiap malam aku hidupkan dalam mimpi. Laki-laki yang hangat namun dapat seketika berubah menjadi seperti bongkahan es. Dingin. Laki-laki yang selalu menghilang selepas pertemuan dan perbincangan hangat. Laki-laki yang sejak 30 menit lalu masih asik bercerita dan tak bosan-bosannya aku pandangi.

“Re, bisakah kau jangan menghilang lagi setelah perbicangan ini berakhir? I don’t wanna lose you. I love you, Reindra.” ucapku dalam hati.



 *****



  • Laki-laki
Masih disini, ditemani senyumnya yang dapat membuat jantungku berdegup lebih cepat berkali lipat. Ada bahagia yang tak dapat dieja satu persatu lewat aksara. Ia dapat membuat hariku lebih mudah hanya dengan satu senyuman. Dua tahun berjalan ia masih sama, cantik, apa adanya, manis, tawanya, suaranya yang menenangkan hanya mungkin rambutnya sekarang nampak panjang, membuatnya terkesan lebih anggun.

Aku disini lagi, ditemani senyumnya, dua cangkir kopi, dan obrolan hangat dengan topik yang ngalor-ngidul. Entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan hadirnya. Ada rasa hangat ketika mendengar suaranya. Ada bahagia yang entah dari mana datangnya saat mendengar tawanya. Yang aku tahu, aku hanya ingin melihatnya sesering yang aku bisa. Aku sering memintanya menemaniku melakukan hal yang sebenarnya bisa aku lakukan sendiri, itu karena aku sedang merindukannya. Aku sadah sering merepotkan dia, hanya untuk mengobati rinduku. Egois memang.  

Aku terlalu pengecut walaupun hanya sekedar memulai percakapan lewat chat atau telfon. Anadikan saja ia tahu bahwa setiap kali ia memulai percakapan lewat chat atau pun telfon, aku sangat, sangat bahagia. Namun bodohnya aku, aku tak tahu harus bagaimana, yang ada aku justru bertambah rindu dan ujung-ujungnya aku kesal dengan diriku sendiri. Itu sebabnya aku lebih memilih membuat alasan apapun asalkan aku bisa melihat wajahnya.

Dia, perempuan yang memiliki senyum paling candu. Yang selalu menyusupkan rindu seusai temu. Dia, perempuan yang ada di hadapanku, yang sedari tadi masih mendengarkan ceritaku sambil menatapku dengan sepasang matanya yang sayu.

“ Jangan pernah palingkan pandangan itu, aku tak pernah puas mengagumi pesonamu. Aku sudah jatuh kepada segalamu.” suara dari dalam hatiku dan berharap ia mendengarnya.

Aku, laki-laki pengecut yang hanya berani bersembunyi dibalik kedok “teman” selama bertahun-tahun karna takut dia tak memiliki perasaan yang sama. Laki-laki yang takut suatu saat terbangun dan sudah tak ada lagi senyumnya disampingnku.


“Ra, bisakah esok kau kembali hadir setelah percakapan ini berakhir? Rinduku butuh tawamu yang candu. Aku mencintaimu, Naira.” ucapku dalam hati.

Selasa, 16 September 2014

Jeda.

(sumber: Google)





Beri aku jeda,
Untuk menikmati degup di dadamu lebih lama,

Beri aku jeda,
Untuk menata kata yang gagal dieja suara sebab airmata.

Beri aku sedikit jeda,
Untuk berbesar hati, atas jemari lain yang sedang kau genggam.

Beri aku jeda panjang,
Untuk melupakan tanpa kenang, tanpa dendam.




Senin, 15 September 2014

Kau Hanya Perahu Kertas.

Kau hanya perahu kertas,
Yang  memaksa berlayar kelautan lepas.

Kau hanya perahu kertas,
Yang memaksa berlayar menjelajahi samudra bebas

Kau hanya perahu kertas,
Yang tak pernah dicintai samudra dan karang yang cadas

Kau hanya perahu kertas,
Yang akan segera hancur sesaat setelah dilarung

Kau hanya perahu kertas,
Yang sengaja dilarung agar tidak pernah kembali ke tangan si pelarung.

Kau hanya perahu kertas yang menamai diri sendiri ' perahu baja'.


Kau hanya perahu kertas,
Berhenti  menyebut dirimu perahu baja jika riak kecil di tepian pantai saja, dapat membuatmu terombang-ambing dan tenggelam. Menjadikanmu tiada.


Kau hanya perahu kertas, yang tak pernah paham kalau dirimu sendiri perahu kertas.



Jangan lagi  menyebut dirimu perahu baja, kau tak pantas.



Kau hanya perahu kertas.

Kamis, 11 September 2014

Mungkin.

Ini tentang apa yang baru saja aku alami,

Aku terbangun dengan rasa kecewa dan kesal dan membuatku hampir menangis, dulu aku pernah mengalaminya sewaktu kecil. Dulu sewaktu keci aku pernah bermimpi diberi coklat kesukaanku oleh ayah, aku senang bukan kepalang, aku menggengamnya erat, dan ketika terbangun dari tidur, aku mencari-cari coklat itu, kemudian aku menagis karna tak menemukannya. Waktu itu aku terlalu kecil untuk memahami kalau itu hanyalah mimpi.

Dan kali ini tejadi lagi, mimpi sialan itu datang lagi. Dan aku masih belum bisa membedakan itu mimpi atau bukan.

Kali ini, aku melihatmu jelas. Jelas sekali. Dengan kaos dan jaket kesukaanmu, dan lagi, kau menghilang entah kemana. Namun kali ini sedikit berbeda, saat aku mencari-cari keberadaanmu tiba-tiba kau memanggilku dengan lantang, aku menoleh dan langsung berlari kearahmu. Kau memelukku erat. Sangat erat dan hangat. Aku benar-benar merasakan kehadiranmu. Seolah itu bukan mimpi. Aku melihat senyummu jelas, jelas sekali. Dan lagi aku terbangun, dan ya tentu saja aku kecewa. Itu hanya mimpi.
Hampir satu tahun berlalu, mengapa aku justru sering memimpikanmu, padahal aku sudah tidak lagi memikirkanmu. Dan selalu, mimpi itu hadir dengan konsep yang sama; kamu datang dan kemudian berlari menjauhiku.


Ini tentang apa yang baru saja aku alami,

Kali ini, saat aku terjaga dari mimpi tentangmu, aku hampir menangis. Rasanya sama seperti waktu dulu aku bermimpi diberi coklat oleh ayahku; sedih, kecewa, kehilangan.

Entah kenapa, aku yang sudah baik-baik saja dan sudah mengikhlaskan segala sesuatu tentangmu tiba-tiba merasa sangat kehilangan hanya karna mimpi. Mungkin karena jauh didasar hatiku, aku masih menyimpanmu. Mungkin karena terlalu banyak hal tentangmu yang masih berserakan di kepalaku. Mungkin karna sebenarnya aku tidak pernah benar-benar bisa melupakanmu. Mungkin karena aku rindu. Mungkin.


Aku.

Aku tak cukup bijak untuk mengikhlaskan setiap rekam jejak yang pernah kau pijak

Aku tak cukup ikhlas melepas yang sudah seharusnya di lepas

Aku tak cukup berlapang dada untuk melepas kamu yang pernah ada.



Aku adalah rumah tempat rebah segala gundah dan rindu yang tak lagi ramah,

Aku adalah tuan rumah yang ramah untuk engkau yang sudah lelah..

Tuan.. aku adalah puan yang seharusnya kau tenangkan dengan lengan dan pelukan.


Pulanglah..

Adalah aku tuan, puan yang tak cukup bijak untuk mengikhlaskan setiap rekam jejak yang pernah kau pijak.