Selasa, 16 September 2014

Jeda.

(sumber: Google)





Beri aku jeda,
Untuk menikmati degup di dadamu lebih lama,

Beri aku jeda,
Untuk menata kata yang gagal dieja suara sebab airmata.

Beri aku sedikit jeda,
Untuk berbesar hati, atas jemari lain yang sedang kau genggam.

Beri aku jeda panjang,
Untuk melupakan tanpa kenang, tanpa dendam.




Senin, 15 September 2014

Kau Hanya Perahu Kertas.

Kau hanya perahu kertas,
Yang  memaksa berlayar kelautan lepas.

Kau hanya perahu kertas,
Yang memaksa berlayar menjelajahi samudra bebas

Kau hanya perahu kertas,
Yang tak pernah dicintai samudra dan karang yang cadas

Kau hanya perahu kertas,
Yang akan segera hancur sesaat setelah dilarung

Kau hanya perahu kertas,
Yang sengaja dilarung agar tidak pernah kembali ke tangan si pelarung.

Kau hanya perahu kertas yang menamai diri sendiri ' perahu baja'.


Kau hanya perahu kertas,
Berhenti  menyebut dirimu perahu baja jika riak kecil di tepian pantai saja, dapat membuatmu terombang-ambing dan tenggelam. Menjadikanmu tiada.


Kau hanya perahu kertas, yang tak pernah paham kalau dirimu sendiri perahu kertas.



Jangan lagi  menyebut dirimu perahu baja, kau tak pantas.



Kau hanya perahu kertas.

Kamis, 11 September 2014

Mungkin.

Ini tentang apa yang baru saja aku alami,

Aku terbangun dengan rasa kecewa dan kesal dan membuatku hampir menangis, dulu aku pernah mengalaminya sewaktu kecil. Dulu sewaktu keci aku pernah bermimpi diberi coklat kesukaanku oleh ayah, aku senang bukan kepalang, aku menggengamnya erat, dan ketika terbangun dari tidur, aku mencari-cari coklat itu, kemudian aku menagis karna tak menemukannya. Waktu itu aku terlalu kecil untuk memahami kalau itu hanyalah mimpi.

Dan kali ini tejadi lagi, mimpi sialan itu datang lagi. Dan aku masih belum bisa membedakan itu mimpi atau bukan.

Kali ini, aku melihatmu jelas. Jelas sekali. Dengan kaos dan jaket kesukaanmu, dan lagi, kau menghilang entah kemana. Namun kali ini sedikit berbeda, saat aku mencari-cari keberadaanmu tiba-tiba kau memanggilku dengan lantang, aku menoleh dan langsung berlari kearahmu. Kau memelukku erat. Sangat erat dan hangat. Aku benar-benar merasakan kehadiranmu. Seolah itu bukan mimpi. Aku melihat senyummu jelas, jelas sekali. Dan lagi aku terbangun, dan ya tentu saja aku kecewa. Itu hanya mimpi.
Hampir satu tahun berlalu, mengapa aku justru sering memimpikanmu, padahal aku sudah tidak lagi memikirkanmu. Dan selalu, mimpi itu hadir dengan konsep yang sama; kamu datang dan kemudian berlari menjauhiku.


Ini tentang apa yang baru saja aku alami,

Kali ini, saat aku terjaga dari mimpi tentangmu, aku hampir menangis. Rasanya sama seperti waktu dulu aku bermimpi diberi coklat oleh ayahku; sedih, kecewa, kehilangan.

Entah kenapa, aku yang sudah baik-baik saja dan sudah mengikhlaskan segala sesuatu tentangmu tiba-tiba merasa sangat kehilangan hanya karna mimpi. Mungkin karena jauh didasar hatiku, aku masih menyimpanmu. Mungkin karena terlalu banyak hal tentangmu yang masih berserakan di kepalaku. Mungkin karna sebenarnya aku tidak pernah benar-benar bisa melupakanmu. Mungkin karena aku rindu. Mungkin.


Aku.

Aku tak cukup bijak untuk mengikhlaskan setiap rekam jejak yang pernah kau pijak

Aku tak cukup ikhlas melepas yang sudah seharusnya di lepas

Aku tak cukup berlapang dada untuk melepas kamu yang pernah ada.



Aku adalah rumah tempat rebah segala gundah dan rindu yang tak lagi ramah,

Aku adalah tuan rumah yang ramah untuk engkau yang sudah lelah..

Tuan.. aku adalah puan yang seharusnya kau tenangkan dengan lengan dan pelukan.


Pulanglah..

Adalah aku tuan, puan yang tak cukup bijak untuk mengikhlaskan setiap rekam jejak yang pernah kau pijak.

Senin, 08 September 2014

Sekarang.

#Sekarang aku sudah tidak menangis lagi jika sedang merindukanmu.

#Sekarang dadaku sudah tak sakit lagi saat mendengar mereka menyebut namamu.

#Sekarang hati dan telingaku sudah cukup kuat untuk mendengar semua hal tentang dirimu.

#Sekarang aku hanya tersenyum saat melihat kumpulan foto-foto kita, tak lagi menangis dan menyesalinya seperti dulu.

#Sekarang aku terbiasa menikmati cangkir kopiku sendiri, rasanya tetap nikmat, walaupun lebih 
menyenangkan jika kamu ada dan menemani. Tapi tak apa, nanti aku juga akan terbiasa.

# Sekarang aku sudah tidak mencari kabarmu, atau mencari tau apa-apa saja tentang hidupmu yang sekarang. Aku berhasil untuk hal ini, walaupun rasa ingin tahuku terkadang lebih besar dari niatku untuk melupakanmu.

#Aku juga sudah belajar menjadi perempuan yang tegas seperti katamu.

#Harusnya, sekarang aku menemukan penggantimu. Tapi, untuk hal ini aku memang belum mau.

# Sekarang aku sudah tahu bagaimnana caranya mengatasi egoku sendiri agar tidak melukai orang lain.

#Sekarang aku sudah dapat memisahkan mana hal yang harus di permasalahkan dan mana yang tidak.

#Sekarang aku belajar diam saat emosiku tidak biasa aku atasi sendiri. Untuk hali ini, kamu yang mengajariku aku berterimakasih kepadamu.

#Sekarang, aku sudah tak apa-apa saat melihat sebuah potret seorang perempuan sedang duduk disampingmu, merangkul bahumu; kamu tersenyum diapun demikian. Aku lihat kamu bahagia dan diapun sama.



Sekarang, aku sudah berdamai dan berteman baik dengan diriku sendiri, dan ternyata itu membuatku merasa lebih baik. Aku juga sudah berdamai dengan masalalu kita, aku tak melupakannya, tidak sekalipun. Kedewasaan membuatku bisa melihat masalalu kita dari sisi yang berbeda.

Asal kau tau saja, Aku masih mencintaimu. Tapi kali ini kedewasaan telah mengajariku mencintaimu dengan cara yang berbeda.

 “Aku mencintaimu, kau tak perlu tahu, kau tak perlu berbuat apa-apa, berbahagialah selalu dengan siapapun yang ada disisimu sekarang. Tak usah perdulikan aku, ini urusanku. Tugasmu hanya berbahagia, itu saja.” seperti itulah kedewasaan mengajari aku cara mencintaimu. Iya, dengan tulus. Dengan diam. Dengan tidak meminta atau mengaharap apa-apa. Dengan melihatmu bahagia saja sudah lebih dari segalanya.


Jika ada yang bilang aku munafik, itu terserah mereka. Mungkin mereka hanya belum merasakannya saja. Yang penting aku bahagia, bahagia dengan seperti ini saja.

Kamis, 04 September 2014

Seharusnya.

Seharusnya, saat kau putuskan untuk pergi kau juga harus membawa pergi ‘barang-barang’mu; memori tentangmu, jangan malah meninggalkannya di kepalaku begitu saja.


Seharusnya saat kau berbalik dan memunggungiku, kau bawa serta juga semua perasaan yang kau berikan kepadaku. Jangan malah membiarkanya berserakan di kepalaku.


Seharusnya, kau kemasi barang-barangmu, kau bawa pergi jauh-jauh sejauh kau meninggalkanku.


Seharusnya, kau bawa pergi ‘barang-barang’mu.. tempatkan di tempat baru yang sekarang kau pilih, bukan malah meninggalkannya disini. Atau kau sengaja meninggalkannya disini.. agar sewaktu-waktu kau bisa ‘pulang’ lagi?




Begitu?

Senin, 01 September 2014

Jauh sebelum mereka berbicara tentang bahagia, kita sudah terlebih dahulu menemukan dan hidup didalamnya.



Jauh sebelum bahagia menjadi sedemikian rumit, kita pernah membungkus bahagia dengan begitu sederhana; hanya dengan duduk berdua, saling menggengam dan membiarkan sepasang mata kita saling berbicara lewat bahasa tanpa suara. Yang dibicarakan mereka adalah; aku, kamu, kita dan bahagia setelahnya.


Jauh sebelum amarah begitu bebal untuk di redakan seperti ini, kita pernah duduk berdua, di trotoar jalan saling diam, saling menyalahkan. Tak jarang aku menangis, tapi setelahnya kau akan memelukku lebih erat dari sebelumnya dan kita akan kembali lagi seperti sedia kala, bahagia. Saat kita bersua, amarah dengan mudah luruh begitu saja. Cinta memang ajaib.


Jauh sebelum rindu menjadi sangat mengesalkan seperti ini, kita pernah saling melipat jarak, demi sebuah temu dan dekap yang hangat, untuk menanggalkan rindu, satu demi satu.


Jauh sebelum ketakutanku tak bisa aku atasi sediri seperti ini, aku pernah memiliki lengan dan pelukmu yang menangkan, katamu; di pelukmu aku bisa berlindung dari apa-apa saja yang bisa menghalangi bahagiaku. Dan aku menjadi pemilik telinga yang setia mendengarkan apa-apa saja yang keluar dari mulutmu, katamu, didengar itu menenangkan dan ketakutamu bisa seketika hilang.


Jauh sebelum kita saling diam seperti ini, kita pernah saling berebut bicara, bertukar tawa, bertukar bahagia, bertukar cangkir kopi dan bertukar pelukan.


Jauh sebelum kau berbalik dan lalu pergi, aku pernah menahanmu, memegangi tanganmu sangat erat, hingga tanggaku sendiri yang kesakitan.


Jauh sebelum punggungmu hilang di ujung jalan, aku masih memelukmu kencang. 


Jauh sebelum kita saling mengukir lara, kita pernah saling mencipta tawa, melarung asa ke langit senja di kota kita, berharap kita dapat bahagia lebih lama dari selamanya.



Kau lupa?

Minggu, 17 Agustus 2014

Selamat Ulang Tahun, Tarra.



Cara Tuhan menciptakan sesuatu yang sering disebut ‘kebetulan’ menjadi suatu kenangan yang tak terlupakan itu lucu ya Ra. Kau bilang Tuhan itu Maha Lucu. Iya lucu katamu.. karena Ia menciptakan banyak hal yang ‘kebetulan sama’ antara aku dan kamu; kebetulan nama panggilan kita sama, kebetulan tanggal lahir kita sama, kebetulan kita sama-sama menyukai kopi hitam tanpa gula. Tapi.. apa benar itu hanya kebetulan Ra? Bagaimana kalau itu ternyata takdir?
Benar katamu Ra, Tuhan itu Maha lucu.. kamu ingat bagaimana dulu kita pertama kali bertemu? Aku masih sering tersenyum kalau mengingatnya Ra. Sore itu di sebuah klinik, aku dan kamu membuat bingung petugas klinik gara-gara kita sama-sama lupa untuk menuliskan nama lengkap kita didaftar pasien. Petugas klinik mengira kalau kita itu kembar, hanya karna nama panggilan dan tanggal lahir kita sama. Apa pertemuan kita itu juga kebetulan Ra? Atau itu takdir?
Setelah kejadian itu aku jadi tahu, kalau ternyata kita kuliah di jurusan yang sama di Universitas yang sama pula. Hey.. apa itu kebetulan lagi? Ah.. aku tidak perduli itu memang benar-benar takdir atau kebetulan belaka.
***
“Oh.. jadi nama kamu itu Dirgantara, terus dipanggil Tara? Hahaha.. pantes mbak yang jaga klinik waktu itu bingung” katamu sore itu saat kita sedang menghabiskn waktu besama disebuah kedai kopi.
“Eh.. Dirtgantara itu kayak nama apa yah Ra?” katamu dengan wajah serius seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Perusahan Pesawat Terbang” jabwabku sambil tersenyum dan menyeruput kopi.
“Oh iya bener! Hahah..” kau kembali tertawa. Aku hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala karna heran, mengapa kau suka sekali tertawa. Dan mengapa tawamu itu selalu menyenangkan untuk di lihat.
Semenjak kejadian diklinik itu aku dan kamu menjadi akrab, hampir setiap sore kita mengabiskan waktu disini. Dan semenjak saat itu, ada perasaan aneh yang menjalar didadaku. Didekatmu Ra, segala hal bisa berubah menjadi sebegitu menyenangkan, bersamamu mengerjakan tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk pun bisa menjadi sangat menyenangkan.
Ada satu hal yang sangat aku sukai dan membuatku sangat betah belama-lama bersamamu; matamu yang berbinar saat kau bercerita tentang hal-hal yang kau sukai, tawamu yang bisa meledak sewaktu-waktu saat aku menceritakan lelucon-leluconku yang katamu garing. Oh iya Ra, aku juga suka caramu tersenyum dan menyapaku, aku suka wajah seriusmu ketika sedang membaca buku, aku suka caramu mengikat rambutmu, caramu membetulkan posisi kacamata berbingkai tebalmu itu, caramu memenggilku “Tara..”, caramu memandang hujan dan tersenyum setelahnya, caramu memperhatikan aku becerita, caramu menikmati kopimu, caramu… ah.. sial ternyata banyak sekali yang aku suka dari dirimu Ra
***.
Banyak hal menyenangkan yang kita lewati bersama. Setiap tahun kita selalu merayaakan ulang tahun kita bersama. Oh iya.. Kau ingat Ra, saat kita merayakan ulang tahun kita yang ke-19, itu kali keduanya kita merayakan ulang tahun bersama. Waktu itu aku tengah teridur lelap aku kelahan seusai mengerjakan tugas di kampus, baru saja 15 menit aku memejamkan mata dan merebahkan diri di kasur tiba-tiba.. Byuuurrr.. seember air di siramkan ketubuhku “Apa-apaan nih!” aku kesal setengah mati, dan ketika aku berbalik “Surpriseeee…. Selamat ulang tahun Dirgantaraa, selamat ulang tahun juga akuuu.. hahaha” ya Tuhaan ternyata itu kamu dan teman-temanku, berdiri dengan kue tart berhiaskan lilin 19, kau tertawa puas melihatku yang basah kuyup dan mukaku yang merah karna marah, kau mendekat dan memelukku, sejenak aku mematung didalam pelukanmu dan seketika lelah dan amarah yang menggumpal didadaku luruh dan lenyap didalam pelukmu, menjelma menjadi bahagia yang luar biasa, jantungku berdebar tak karuan. Aku membalas pelukmu. Erat. “Trimakasih Ra” bisikku lirih dalam pelukmu. “Sial.. aku benar-benar mencintai perempuan ini” umpatku dalam hati.
***
Sebelum mengenalmu Ra, bagiku ritual Ulang tahun adalah pengingat bahwa setiap tahun ada saja yang datang dan lalu pergi, akan ada banyak hal yang berubah. Dan kau tahu Ra aku tak menyukai itu. Tapi itu berbalik menjadi hal yang sangat berbeda saat aku  mengenalmu, bersamamu merayakan ritual berkurangnya umur ini selalu berati doa, harapan-harapan baru, semangat baru, perbaikan diri, tak peduli siapa yang akan datang dan pergi.
Oh iya Ra, aku juga masih ingat perayaan ulang tahun kita yang ke-21, tidak ada perang tepung, telur, dan air seperti yang sudah-sudah. Ulang tahun kita yang ke 21 kita rayakan dengan sedikit berbeda, aku dan kamu makan malam di sebuah caffee, suasananya romantis.
“Ini untukku?”
“Iya Ra, untukmu” kataku sambil membukakan kotak merah beludru itu.
“Ini..” sejenak kau terdiam.
“Hadiah untukmu Ra, kau suka?”
Kau hanya mengangguk, tersenyum, matamu berkaca-kaca.
 “Trimakasih Dirgantara, kalungnya cantik” kau menangis haru, ketika kulingkaran kalung sederhana itu di lehermu yang putih dan jenjang.
“Kembali kasih.. tapi tak lebih cantik darimu, Yashifa Tarra Lutfia” aku tersenyum. Kau tersipu dan menghambur ke dalam pelukankku. “Sejak kapan kau belajar menggombali perempuan sampai menangis seperti ini, hah?” katamu yang masih dalam pelukanku, aku hanya tertawa mendengarnya. Saat itu pertama kalinya aku merasa Surga bisa  Sedekat satu pelukan saja. Kau sangat bahagia katamu. Aku pun sama, bahkan lebih bahagia darimu Ra, bagaimana tidak.. perempuan yang selama 3 tahun terakhir hanya bisa aku kagumi ternyata memiliki perasaan yang sama. Waktu itu hubungan kita sudah berjalan satu tahun, dan aku masih belum bisa percaya kalau kau kini menjadi milikku, menjadi perempuanku. Aku tak henti-hentinya bersyukur memiliki perempuan sepertimu Ra. Betapa beruntungnya aku memilikimu yang begitu menyayangiku. Apakah ini juga kebetulan Ra? Atau ini takdir?
***
 “Eh.. nggak kerasa ya Ra, besok udah ke-5 kalinya kita ngrayaain ulang tahun bareng” katamu sambil memandangiku sejenak, tersenyum lebar kemudian merebahkan kepalamu kembali di dadaku.
 Sore itu seperti biasa, sepulang dari kantor kita masing-masing kita selalu menyempatkan diri untuk bertemu, kadang di kedai kopi kesukaan kita, kadang di taman kota, kadang hanya duduk di sofa balkon apartemenku, seperti sekarang ini.
 “Kalo di inget-inget lagi gimana awal kita ketemu lucu ya Ra?” lanjutmu. Aku hanya tersenyum sambil mengelus kepalamu yang tengah rebah di dadaku.
 “Oh iya Ra! Lusa kan hari jadi kita yang kedua” ucapmu tiba-tiba sembari bangkit dan memandangku lekat.
“Aku tak lupa, Yashifa Tarra Lutfia.. hadiah untuk ulang tahunmu dan untuh hari jadi kita sudah aku siapkan jadi satu paket” balasku sambil mencubit lembut pipimu. Kau manyun dan malah memukuli lengananku. Katamu, kau paling sebal jika pipimu dicubit. Aku tertawa. Kau terlihat seperti anak kecil. Menggemaskan.
“Aku tak mau hadiah apa-apa Ra” katamu setelah puas menghujani lenganku dengan pukulanmu.
“Lalu?” jawabku sambil menggengam tangannmu.
“Aku sudah tak ingin apa-apa lagi Ra, aku sudah punya semuanya.. aku sudah punya segala yang aku inginkan dalam hidup, aku sudah punya kamu” kalimat yg meluncur dari bibirmu itu seperti sihir membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi, aku bisa merasakan ketulusan lewat kata-katamu itu. Aku hanya diam, menarik kedua tanganmu kedalam pelukanku. “Aku mencintaimu, Dirgantara.” Bisikmu lirik dalam pelukku. Aku tak menjawab, aku hanya bisa memelukmu erat, berharap kau tahu itu adalah caraku mengatakan “Akupun sama Tarra. Mencintaimu. Mungkin berkali lipat lebih banyak darimu”
***
Dari banyak hal yang sudah kita lewati, ada satu hal yang benar-benar tidak akan aku lupakan seumur hidupku, aku menyesal dan takbisa memaafkan diriku sendiri setelahnya, sampai sekarang. Benar kata orang-orang, tak akan ada kisah yang sempurna.. kita lupa kalau bahagia dan duka itu satu paket. Kita terlalu sibuk berbahagia sehingga mungkin malaikat iri dan mencabut kebahagiaan itu dengan teganya dari tanggan kita, atau dari tanganku lebih tepatnya..
Aku masih ingat sekali, seusai mengobrol di apartemenku, kau menolak untuk aku antar pulang, padahal waktu itu jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Aku memaksa mengantar pulang, tapi kau takmau dan  bersikeras pulang naik taksi.
“Biar aku anter kamu sampe rumah Ra”
“Nggak usah sayang, aku bisa naik taksi.. lagian besok kamu musti brangkat pagi-pagi”
“Tapi kan Ra.. kamu perempuan, aku takut ada apa-apa sama kamu”
“Nggak usah sayang, kan biasanya juga aku pulang jam segini naik taksi”
“Tapi kan Ra..”
“Iih.. kamu ini kenapa sih, Aneh banget, biasanya juga kan aku pulang naik taksi..”
“Iya Ra, tapi..”
“Udah deh.. kamu nggak usah bawel.. Oh iya, Besok kan kita mau ngrayain ultah kita mending kamu istirahat gih..”
“Tapi Ra..”
“Dah.. Dirgantaraa.. “ belum slesai aku berbicara kamu sudah mencium pipiku dan ngeloyor pergi.
“Tarra.!.”aku berteriak memanggilmu. Kau hanya tersenyum dan melambaikan tangan, dan menghilang di balik pintu lift apartemenku. Aku juga tak tahu mengapa aku seperti ini. Entah kenapa malam itu aku tidak ingin berpisah denganmu. Aneh memang. Mungkin aku hanya rindu padamu, pikirku.
Rasa gelisah terus mengusikku, aku mencoba mengirimimu sms, bbm, bahkan menelfonmu berulang kali, tapi aku tak mendapat jawaban sama sekali aku bertambah gelisah. Entah apa yang membuat aku sekhawatir ini. Aku mencoba duduk dan merebahkan punggungku ke sofa, mencoba menenangkan diri. “aku ini kenapa” pertanyaan itu lalulalang di fikiranku. Aku mencoba memajamkan mata dengan posel yang masihberada di genggaman tangan dan tak lama kemudian bunyi Ringtone ponselku membuatku terhenyak, aku melihat namamu di layar ponselku, buru-buruaku angkat “Ya Tuhan Taraaa, kenapa susah banget di hubungi, kau sudah sampai rumah? Kau tak apa-apa?” Kau tahu Ra? Aku Khawatir setengah mati waktu itu.
“Benar dengan bapak Drigantara?” jawab orang di seberang telfon. Itu bukan suaramu Ra, melainkan suara perempuan  asing.
“Iya benar.. ini siapa? Dimana Tarra?” jawabku panik, seketika ketakutan dan kecemasan menelusup masuk kedalam dadaku.
***
“Nyonya Yashifa Tarra Lutfia sekarang berada di Rumah Sakit Harapan Bunda, beliau dalam keadaan kritis, sebelum beliau tak sadarkan diri beliau meminta kami untuk menghubungi bapak” kalimat itu terus berputar-putar di kepalaku, sejenak jantungku seperti berhenti berdetak. Aku memacu mobilku dengan perasaan yang campur aduk; cemas, khawatir, takut. Seumur hidup Ra, aku baru pernah merasakan takut yang sedemikian hebat. Aku takut hal yang buruk terjadi padamu. Sebenarnya jarak Rumah Sakit dengan Apartemenku hanya 30 menit, tapi gara-gara macet, perjalanan itu menjadi berjam-jam.
Kau tahu perasaanku saat itu Ra? Aku seperti anak kecil yang tengah di tinggalkan Ibunnya sendirian. Takut. Cemas. Aku ketakutan setengah mati. Hingga tanpa aku sadari ada air hangat yang meleleh di mataku “Ya Tuhan Tarra.. Apa yang terjadi? Seharusnya aku mengantarmu pulang.. seharusnya aku tak membiarkanmu pulang sendirian.. seharusnya aku menjagamu.. seharusnya..” aku mulai mengutuki diriku sendiri. Dan mulai detik itu Ra, aku membenci diriku sendiri.
Setelah sampai di Rumah Sakit, aku langsug berlari ke Ruang ICU, dilorong  aku melihat ayahmu yang tengah memeluk Ibumu yang sedang menangis . Aku berjalan mendekati ayah dan ibumu dengan langkah gontai. Lututku lemas. “Tante.. Tarra kenapa?” aku dapat merasakan suaraku parau. Aku benar-benar takut saat itu Ra.
 “Tarra.. tadi..” ibumu tak melanjutkan kalimatnya, ia kembali menangis “Tarra kenapa tante!” aku mulai panik. Aku mulai menagis.
“Tadi.. sepulang kerja” ibumu mulai bercerita sambil terisak “Tarra.. Tarra di rampok oleh supir taksi.. dia ditusuk.. dan nyawanya tidak bisa di selamatkan”
Yang aku ingat saat itu Ra, langit seakan runtuh tepat di atas kepalaku. Aku tersungkur di lantai, menagis sejadi-jadinya. Aku tak percaya akan apa yang baru saja aku dengar. 2 jam yang lalu kita masih mengobrol di apartemenku, iya kan Ra? 2 jam yang lalu aku masih mencubit pipimu, 2 jam yang lalu kau masih memlukku hangat. Aku berdri dan berjalan masuk keruang ICU, aku melihat tubuhmu terbaring, aku membuka kain yang menutupi wajahmu dengan tangan yang gemetar, yang aku ingat, saat itu aku berteriak dan menanis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuhmu yang sudah sedingin Es. Mengapa Tuhan begitu tega menrenggutmu dari sisiku secepat ini? Dan semua tiba-tiba menjadi gelap.
***
Ra, Hari ini hari ulang Tahun kita kan? Harusnya kau ada di sini Ra.
Aku diam memandangi pusaramu, 3 tahun berlalu aku masih belum percaya kau pergi untuk selama-lamanya. Jika aku tahu, malam itu adalah terakhir kalinya aku melihatmu Ra, akan ku kecup keningmu lebih lama, kupeluk lebih erat dan tak akan kubiarkan pergi.
 Seharusnya aku mengantarmu pulang.. seharusnya aku tak membiarkanmu sendirian.. seharusnya aku menjagamu.. seharusnya sekarang kita sudah menikah. Iya Ra, menikah. Tepat sehari sebelum kepergianmu, aku bilang kepadamu aku sudah meniapkan hadiah ulang tahun dan hari jadi kita bukan? Iya Ra, memang sudah aku persiapkan, aku hendak melamarmu tepat di hari ulang tahunmu. Tapi Ra, dengan teganya Tuhan menarikmu dari sisiku secara paksa. Kau pergi tepat di hari Ulang tahunmu, di hari ulang tahun kita. Apa ini juga kebetualan Ra? Atau ini memang takdir, aku masih belum tahu Ra. Tapi, aku sadar satu hal, mencintaimu adalah sebuah Takdir dari awal pertemuan kita, tuhan sudah menakdirkan perasaan ini kepadamu. Kehilanganmu pun juga sebuah takdir, takdir yang sampai sekarang belum bisa aku terima.
Sekarang, di pusaramulah tempat favoritku menghabiskan momen ulang tahun. Selamat ulang tahun, Yashifa Tarra Lutfia. Berbahagia selalu kau disana. Aku hanya bisa menggenggam cincin yang seharusnya aku lingkarkan di jari manismu, aku kembali menagis, tersedu di tanah makammu “Selamat Ulang Tahun Ra, Aku mencintaimu, Selalu.”