Cara
Tuhan menciptakan sesuatu yang sering disebut ‘kebetulan’ menjadi suatu
kenangan yang tak terlupakan itu lucu ya Ra. Kau bilang Tuhan itu Maha Lucu.
Iya lucu katamu.. karena Ia menciptakan banyak hal yang ‘kebetulan sama’ antara
aku dan kamu; kebetulan nama panggilan kita sama, kebetulan tanggal lahir kita
sama, kebetulan kita sama-sama menyukai kopi hitam tanpa gula. Tapi.. apa benar
itu hanya kebetulan Ra? Bagaimana kalau itu ternyata takdir?
Benar
katamu Ra, Tuhan itu Maha lucu.. kamu ingat bagaimana dulu kita pertama kali
bertemu? Aku masih sering tersenyum kalau mengingatnya Ra. Sore itu di sebuah
klinik, aku dan kamu membuat bingung petugas klinik gara-gara kita sama-sama
lupa untuk menuliskan nama lengkap kita didaftar pasien. Petugas klinik mengira
kalau kita itu kembar, hanya karna nama panggilan dan tanggal lahir kita sama.
Apa pertemuan kita itu juga kebetulan Ra? Atau itu takdir?
Setelah
kejadian itu aku jadi tahu, kalau ternyata kita kuliah di jurusan yang sama di
Universitas yang sama pula. Hey.. apa itu kebetulan lagi? Ah.. aku tidak
perduli itu memang benar-benar takdir atau kebetulan belaka.
***
“Oh..
jadi nama kamu itu Dirgantara, terus dipanggil Tara? Hahaha.. pantes mbak yang
jaga klinik waktu itu bingung” katamu sore itu saat kita sedang menghabiskn
waktu besama disebuah kedai kopi.
“Eh..
Dirtgantara itu kayak nama apa yah Ra?” katamu dengan wajah serius seperti
sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Perusahan
Pesawat Terbang” jabwabku sambil tersenyum dan menyeruput kopi.
“Oh
iya bener! Hahah..” kau kembali tertawa. Aku hanya bisa tersenyum dan
menggelengkan kepala karna heran, mengapa kau suka sekali tertawa. Dan mengapa
tawamu itu selalu menyenangkan untuk di lihat.
Semenjak
kejadian diklinik itu aku dan kamu menjadi akrab, hampir setiap sore kita
mengabiskan waktu disini. Dan semenjak saat itu, ada perasaan aneh yang
menjalar didadaku. Didekatmu Ra, segala hal bisa berubah menjadi sebegitu menyenangkan,
bersamamu mengerjakan tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk pun bisa menjadi
sangat menyenangkan.
Ada
satu hal yang sangat aku sukai dan membuatku sangat betah belama-lama
bersamamu; matamu yang berbinar saat kau bercerita tentang hal-hal yang kau
sukai, tawamu yang bisa meledak sewaktu-waktu saat aku menceritakan
lelucon-leluconku yang katamu garing. Oh iya Ra, aku juga suka caramu tersenyum
dan menyapaku, aku suka wajah seriusmu ketika sedang membaca buku, aku suka
caramu mengikat rambutmu, caramu membetulkan posisi kacamata berbingkai tebalmu
itu, caramu memenggilku “Tara..”, caramu memandang hujan dan tersenyum
setelahnya, caramu memperhatikan aku becerita, caramu menikmati kopimu, caramu…
ah.. sial ternyata banyak sekali yang aku suka dari dirimu Ra
***.
Banyak
hal menyenangkan yang kita lewati bersama. Setiap tahun kita selalu merayaakan
ulang tahun kita bersama. Oh iya.. Kau ingat Ra, saat kita merayakan ulang
tahun kita yang ke-19, itu kali keduanya kita merayakan ulang tahun bersama. Waktu
itu aku tengah teridur lelap aku kelahan seusai mengerjakan tugas di kampus,
baru saja 15 menit aku memejamkan mata dan merebahkan diri di kasur tiba-tiba..
Byuuurrr.. seember air di siramkan ketubuhku “Apa-apaan nih!” aku kesal
setengah mati, dan ketika aku berbalik “Surpriseeee…. Selamat ulang tahun
Dirgantaraa, selamat ulang tahun juga akuuu.. hahaha” ya Tuhaan ternyata itu
kamu dan teman-temanku, berdiri dengan kue tart berhiaskan lilin 19, kau
tertawa puas melihatku yang basah kuyup dan mukaku yang merah karna marah, kau mendekat
dan memelukku, sejenak aku mematung didalam pelukanmu dan seketika lelah dan
amarah yang menggumpal didadaku luruh dan lenyap didalam pelukmu, menjelma
menjadi bahagia yang luar biasa, jantungku berdebar tak karuan. Aku membalas
pelukmu. Erat. “Trimakasih Ra” bisikku lirih dalam pelukmu. “Sial.. aku benar-benar mencintai perempuan ini” umpatku dalam
hati.
***
Sebelum
mengenalmu Ra, bagiku ritual Ulang tahun adalah pengingat bahwa setiap tahun
ada saja yang datang dan lalu pergi, akan ada banyak hal yang berubah. Dan kau
tahu Ra aku tak menyukai itu. Tapi itu berbalik menjadi hal yang sangat berbeda
saat aku mengenalmu, bersamamu merayakan
ritual berkurangnya umur ini selalu berati doa, harapan-harapan baru, semangat baru,
perbaikan diri, tak peduli siapa yang akan datang dan pergi.
Oh
iya Ra, aku juga masih ingat perayaan ulang tahun kita yang ke-21, tidak ada
perang tepung, telur, dan air seperti yang sudah-sudah. Ulang tahun kita yang
ke 21 kita rayakan dengan sedikit berbeda, aku dan kamu makan malam di sebuah
caffee, suasananya romantis.
“Ini
untukku?”
“Iya
Ra, untukmu” kataku sambil membukakan kotak merah beludru itu.
“Ini..”
sejenak kau terdiam.
“Hadiah
untukmu Ra, kau suka?”
Kau
hanya mengangguk, tersenyum, matamu berkaca-kaca.
“Trimakasih Dirgantara, kalungnya cantik” kau
menangis haru, ketika kulingkaran kalung sederhana itu di lehermu yang putih
dan jenjang.
“Kembali
kasih.. tapi tak lebih cantik darimu, Yashifa Tarra Lutfia” aku tersenyum. Kau
tersipu dan menghambur ke dalam pelukankku. “Sejak kapan kau belajar
menggombali perempuan sampai menangis seperti ini, hah?” katamu yang masih
dalam pelukanku, aku hanya tertawa mendengarnya. Saat itu pertama kalinya aku
merasa Surga bisa Sedekat satu pelukan
saja. Kau sangat bahagia katamu. Aku pun sama, bahkan lebih bahagia darimu Ra,
bagaimana tidak.. perempuan yang selama 3 tahun terakhir hanya bisa
aku kagumi ternyata memiliki perasaan yang sama. Waktu itu hubungan kita sudah
berjalan satu tahun, dan aku masih belum bisa percaya kalau kau kini menjadi
milikku, menjadi perempuanku. Aku tak henti-hentinya bersyukur memiliki
perempuan sepertimu Ra. Betapa beruntungnya aku memilikimu yang begitu
menyayangiku. Apakah ini juga kebetulan Ra? Atau ini takdir?
***
“Eh.. nggak kerasa ya Ra, besok udah ke-5
kalinya kita ngrayaain ulang tahun bareng” katamu sambil memandangiku sejenak,
tersenyum lebar kemudian merebahkan kepalamu kembali di dadaku.
Sore itu seperti biasa, sepulang dari kantor
kita masing-masing kita selalu menyempatkan diri untuk bertemu, kadang di kedai
kopi kesukaan kita, kadang di taman kota, kadang hanya duduk di sofa balkon
apartemenku, seperti sekarang ini.
“Kalo di inget-inget lagi gimana awal kita
ketemu lucu ya Ra?” lanjutmu. Aku hanya tersenyum sambil mengelus kepalamu yang
tengah rebah di dadaku.
“Oh iya Ra! Lusa kan hari jadi kita yang
kedua” ucapmu tiba-tiba sembari bangkit dan memandangku lekat.
“Aku
tak lupa, Yashifa Tarra Lutfia.. hadiah untuk ulang tahunmu dan untuh hari jadi
kita sudah aku siapkan jadi satu paket” balasku sambil mencubit lembut pipimu.
Kau manyun dan malah memukuli lengananku. Katamu, kau paling sebal jika pipimu
dicubit. Aku tertawa. Kau terlihat seperti anak kecil. Menggemaskan.
“Aku
tak mau hadiah apa-apa Ra” katamu setelah puas menghujani lenganku dengan
pukulanmu.
“Lalu?”
jawabku sambil menggengam tangannmu.
“Aku
sudah tak ingin apa-apa lagi Ra, aku sudah punya semuanya.. aku sudah punya
segala yang aku inginkan dalam hidup, aku sudah punya kamu” kalimat yg meluncur
dari bibirmu itu seperti sihir membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi, aku
bisa merasakan ketulusan lewat kata-katamu itu. Aku hanya diam, menarik kedua
tanganmu kedalam pelukanku. “Aku mencintaimu, Dirgantara.” Bisikmu lirik dalam
pelukku. Aku tak menjawab, aku hanya bisa memelukmu erat, berharap kau tahu itu
adalah caraku mengatakan “Akupun sama Tarra. Mencintaimu. Mungkin berkali lipat
lebih banyak darimu”
***
Dari
banyak hal yang sudah kita lewati, ada satu hal yang benar-benar tidak akan aku
lupakan seumur hidupku, aku menyesal dan takbisa memaafkan diriku sendiri
setelahnya, sampai sekarang. Benar kata orang-orang, tak akan ada kisah yang sempurna..
kita lupa kalau bahagia dan duka itu satu paket. Kita terlalu sibuk berbahagia
sehingga mungkin malaikat iri dan mencabut kebahagiaan itu dengan teganya dari
tanggan kita, atau dari tanganku lebih tepatnya..
Aku
masih ingat sekali, seusai mengobrol di apartemenku, kau menolak untuk aku
antar pulang, padahal waktu itu jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Aku
memaksa mengantar pulang, tapi kau takmau dan
bersikeras pulang naik taksi.
“Biar
aku anter kamu sampe rumah Ra”
“Nggak
usah sayang, aku bisa naik taksi.. lagian besok kamu musti brangkat pagi-pagi”
“Tapi
kan Ra.. kamu perempuan, aku takut ada apa-apa sama kamu”
“Nggak
usah sayang, kan biasanya juga aku pulang jam segini naik taksi”
“Tapi
kan Ra..”
“Iih..
kamu ini kenapa sih, Aneh banget, biasanya juga kan aku pulang naik taksi..”
“Iya
Ra, tapi..”
“Udah
deh.. kamu nggak usah bawel.. Oh iya, Besok kan kita mau ngrayain ultah kita
mending kamu istirahat gih..”
“Tapi
Ra..”
“Dah..
Dirgantaraa.. “ belum slesai aku berbicara kamu sudah mencium pipiku dan
ngeloyor pergi.
“Tarra.!.”aku
berteriak memanggilmu. Kau hanya tersenyum dan melambaikan tangan, dan
menghilang di balik pintu lift apartemenku. Aku juga tak tahu mengapa aku
seperti ini. Entah kenapa malam itu aku tidak ingin berpisah denganmu. Aneh
memang. Mungkin aku hanya rindu padamu, pikirku.
Rasa
gelisah terus mengusikku, aku mencoba mengirimimu sms, bbm, bahkan menelfonmu
berulang kali, tapi aku tak mendapat jawaban sama sekali aku bertambah gelisah.
Entah apa yang membuat aku sekhawatir ini. Aku mencoba duduk dan merebahkan
punggungku ke sofa, mencoba menenangkan diri. “aku ini kenapa” pertanyaan itu lalulalang di fikiranku. Aku
mencoba memajamkan mata dengan posel yang masihberada di genggaman tangan dan
tak lama kemudian bunyi Ringtone ponselku membuatku terhenyak, aku melihat
namamu di layar ponselku, buru-buruaku angkat “Ya Tuhan Taraaa, kenapa susah
banget di hubungi, kau sudah sampai rumah? Kau tak apa-apa?” Kau tahu Ra? Aku
Khawatir setengah mati waktu itu.
“Benar
dengan bapak Drigantara?” jawab orang di seberang telfon. Itu bukan suaramu Ra,
melainkan suara perempuan asing.
“Iya
benar.. ini siapa? Dimana Tarra?” jawabku panik, seketika ketakutan dan
kecemasan menelusup masuk kedalam dadaku.
***
“Nyonya
Yashifa Tarra Lutfia sekarang berada di Rumah Sakit Harapan Bunda, beliau dalam
keadaan kritis, sebelum beliau tak sadarkan diri beliau meminta kami untuk menghubungi
bapak” kalimat itu terus berputar-putar di kepalaku, sejenak jantungku seperti
berhenti berdetak. Aku memacu mobilku dengan perasaan yang campur aduk; cemas,
khawatir, takut. Seumur hidup Ra, aku baru pernah merasakan takut yang
sedemikian hebat. Aku takut hal yang buruk terjadi padamu. Sebenarnya jarak
Rumah Sakit dengan Apartemenku hanya 30 menit, tapi gara-gara macet, perjalanan
itu menjadi berjam-jam.
Kau
tahu perasaanku saat itu Ra? Aku seperti anak kecil yang tengah di tinggalkan
Ibunnya sendirian. Takut. Cemas. Aku ketakutan setengah mati. Hingga tanpa aku
sadari ada air hangat yang meleleh di mataku “Ya Tuhan Tarra.. Apa yang
terjadi? Seharusnya aku mengantarmu pulang.. seharusnya aku tak membiarkanmu
pulang sendirian.. seharusnya aku menjagamu.. seharusnya..” aku mulai mengutuki
diriku sendiri. Dan mulai detik itu Ra, aku membenci diriku sendiri.
Setelah
sampai di Rumah Sakit, aku langsug berlari ke Ruang ICU, dilorong aku melihat ayahmu yang tengah memeluk Ibumu
yang sedang menangis . Aku berjalan mendekati ayah dan ibumu dengan langkah
gontai. Lututku lemas. “Tante.. Tarra kenapa?” aku dapat merasakan suaraku
parau. Aku benar-benar takut saat itu Ra.
“Tarra.. tadi..” ibumu tak melanjutkan
kalimatnya, ia kembali menangis “Tarra kenapa tante!” aku mulai panik. Aku
mulai menagis.
“Tadi..
sepulang kerja” ibumu mulai bercerita sambil terisak “Tarra.. Tarra di rampok
oleh supir taksi.. dia ditusuk.. dan nyawanya tidak bisa di selamatkan”
Yang
aku ingat saat itu Ra, langit seakan runtuh tepat di atas kepalaku. Aku tersungkur
di lantai, menagis sejadi-jadinya. Aku tak percaya akan apa yang baru saja aku
dengar. 2 jam yang lalu kita masih mengobrol di apartemenku, iya kan Ra? 2 jam
yang lalu aku masih mencubit pipimu, 2 jam yang lalu kau masih memlukku hangat.
Aku berdri dan berjalan masuk keruang ICU, aku melihat tubuhmu terbaring, aku
membuka kain yang menutupi wajahmu dengan tangan yang gemetar, yang aku ingat,
saat itu aku berteriak dan menanis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuhmu yang
sudah sedingin Es. Mengapa Tuhan begitu tega menrenggutmu dari sisiku secepat
ini? Dan semua tiba-tiba menjadi gelap.
***
Ra,
Hari ini hari ulang Tahun kita kan? Harusnya kau ada di sini Ra.
Aku
diam memandangi pusaramu, 3 tahun berlalu aku masih belum percaya kau pergi
untuk selama-lamanya. Jika aku tahu, malam itu adalah terakhir kalinya aku
melihatmu Ra, akan ku kecup keningmu lebih lama, kupeluk lebih erat dan tak
akan kubiarkan pergi.
Seharusnya aku mengantarmu pulang.. seharusnya
aku tak membiarkanmu sendirian.. seharusnya aku menjagamu.. seharusnya sekarang
kita sudah menikah. Iya Ra, menikah. Tepat sehari sebelum kepergianmu, aku
bilang kepadamu aku sudah meniapkan hadiah ulang tahun dan hari jadi kita bukan?
Iya Ra, memang sudah aku persiapkan, aku hendak melamarmu tepat di hari ulang
tahunmu. Tapi Ra, dengan teganya Tuhan menarikmu dari sisiku secara paksa. Kau
pergi tepat di hari Ulang tahunmu, di hari ulang tahun kita. Apa ini juga
kebetualan Ra? Atau ini memang takdir, aku masih belum tahu Ra. Tapi, aku sadar
satu hal, mencintaimu adalah sebuah Takdir dari awal pertemuan kita, tuhan
sudah menakdirkan perasaan ini kepadamu. Kehilanganmu pun juga sebuah takdir, takdir
yang sampai sekarang belum bisa aku terima.
Sekarang,
di pusaramulah tempat favoritku menghabiskan momen ulang tahun. Selamat ulang
tahun, Yashifa Tarra Lutfia. Berbahagia selalu kau disana. Aku hanya bisa menggenggam
cincin yang seharusnya aku lingkarkan di jari manismu, aku kembali menagis,
tersedu di tanah makammu “Selamat Ulang Tahun Ra, Aku mencintaimu, Selalu.”