Selasa, 16 September 2014

Jeda.

(sumber: Google)





Beri aku jeda,
Untuk menikmati degup di dadamu lebih lama,

Beri aku jeda,
Untuk menata kata yang gagal dieja suara sebab airmata.

Beri aku sedikit jeda,
Untuk berbesar hati, atas jemari lain yang sedang kau genggam.

Beri aku jeda panjang,
Untuk melupakan tanpa kenang, tanpa dendam.




Senin, 15 September 2014

Kau Hanya Perahu Kertas.

Kau hanya perahu kertas,
Yang  memaksa berlayar kelautan lepas.

Kau hanya perahu kertas,
Yang memaksa berlayar menjelajahi samudra bebas

Kau hanya perahu kertas,
Yang tak pernah dicintai samudra dan karang yang cadas

Kau hanya perahu kertas,
Yang akan segera hancur sesaat setelah dilarung

Kau hanya perahu kertas,
Yang sengaja dilarung agar tidak pernah kembali ke tangan si pelarung.

Kau hanya perahu kertas yang menamai diri sendiri ' perahu baja'.


Kau hanya perahu kertas,
Berhenti  menyebut dirimu perahu baja jika riak kecil di tepian pantai saja, dapat membuatmu terombang-ambing dan tenggelam. Menjadikanmu tiada.


Kau hanya perahu kertas, yang tak pernah paham kalau dirimu sendiri perahu kertas.



Jangan lagi  menyebut dirimu perahu baja, kau tak pantas.



Kau hanya perahu kertas.

Kamis, 11 September 2014

Mungkin.

Ini tentang apa yang baru saja aku alami,

Aku terbangun dengan rasa kecewa dan kesal dan membuatku hampir menangis, dulu aku pernah mengalaminya sewaktu kecil. Dulu sewaktu keci aku pernah bermimpi diberi coklat kesukaanku oleh ayah, aku senang bukan kepalang, aku menggengamnya erat, dan ketika terbangun dari tidur, aku mencari-cari coklat itu, kemudian aku menagis karna tak menemukannya. Waktu itu aku terlalu kecil untuk memahami kalau itu hanyalah mimpi.

Dan kali ini tejadi lagi, mimpi sialan itu datang lagi. Dan aku masih belum bisa membedakan itu mimpi atau bukan.

Kali ini, aku melihatmu jelas. Jelas sekali. Dengan kaos dan jaket kesukaanmu, dan lagi, kau menghilang entah kemana. Namun kali ini sedikit berbeda, saat aku mencari-cari keberadaanmu tiba-tiba kau memanggilku dengan lantang, aku menoleh dan langsung berlari kearahmu. Kau memelukku erat. Sangat erat dan hangat. Aku benar-benar merasakan kehadiranmu. Seolah itu bukan mimpi. Aku melihat senyummu jelas, jelas sekali. Dan lagi aku terbangun, dan ya tentu saja aku kecewa. Itu hanya mimpi.
Hampir satu tahun berlalu, mengapa aku justru sering memimpikanmu, padahal aku sudah tidak lagi memikirkanmu. Dan selalu, mimpi itu hadir dengan konsep yang sama; kamu datang dan kemudian berlari menjauhiku.


Ini tentang apa yang baru saja aku alami,

Kali ini, saat aku terjaga dari mimpi tentangmu, aku hampir menangis. Rasanya sama seperti waktu dulu aku bermimpi diberi coklat oleh ayahku; sedih, kecewa, kehilangan.

Entah kenapa, aku yang sudah baik-baik saja dan sudah mengikhlaskan segala sesuatu tentangmu tiba-tiba merasa sangat kehilangan hanya karna mimpi. Mungkin karena jauh didasar hatiku, aku masih menyimpanmu. Mungkin karena terlalu banyak hal tentangmu yang masih berserakan di kepalaku. Mungkin karna sebenarnya aku tidak pernah benar-benar bisa melupakanmu. Mungkin karena aku rindu. Mungkin.


Aku.

Aku tak cukup bijak untuk mengikhlaskan setiap rekam jejak yang pernah kau pijak

Aku tak cukup ikhlas melepas yang sudah seharusnya di lepas

Aku tak cukup berlapang dada untuk melepas kamu yang pernah ada.



Aku adalah rumah tempat rebah segala gundah dan rindu yang tak lagi ramah,

Aku adalah tuan rumah yang ramah untuk engkau yang sudah lelah..

Tuan.. aku adalah puan yang seharusnya kau tenangkan dengan lengan dan pelukan.


Pulanglah..

Adalah aku tuan, puan yang tak cukup bijak untuk mengikhlaskan setiap rekam jejak yang pernah kau pijak.

Senin, 08 September 2014

Sekarang.

#Sekarang aku sudah tidak menangis lagi jika sedang merindukanmu.

#Sekarang dadaku sudah tak sakit lagi saat mendengar mereka menyebut namamu.

#Sekarang hati dan telingaku sudah cukup kuat untuk mendengar semua hal tentang dirimu.

#Sekarang aku hanya tersenyum saat melihat kumpulan foto-foto kita, tak lagi menangis dan menyesalinya seperti dulu.

#Sekarang aku terbiasa menikmati cangkir kopiku sendiri, rasanya tetap nikmat, walaupun lebih 
menyenangkan jika kamu ada dan menemani. Tapi tak apa, nanti aku juga akan terbiasa.

# Sekarang aku sudah tidak mencari kabarmu, atau mencari tau apa-apa saja tentang hidupmu yang sekarang. Aku berhasil untuk hal ini, walaupun rasa ingin tahuku terkadang lebih besar dari niatku untuk melupakanmu.

#Aku juga sudah belajar menjadi perempuan yang tegas seperti katamu.

#Harusnya, sekarang aku menemukan penggantimu. Tapi, untuk hal ini aku memang belum mau.

# Sekarang aku sudah tahu bagaimnana caranya mengatasi egoku sendiri agar tidak melukai orang lain.

#Sekarang aku sudah dapat memisahkan mana hal yang harus di permasalahkan dan mana yang tidak.

#Sekarang aku belajar diam saat emosiku tidak biasa aku atasi sendiri. Untuk hali ini, kamu yang mengajariku aku berterimakasih kepadamu.

#Sekarang, aku sudah tak apa-apa saat melihat sebuah potret seorang perempuan sedang duduk disampingmu, merangkul bahumu; kamu tersenyum diapun demikian. Aku lihat kamu bahagia dan diapun sama.



Sekarang, aku sudah berdamai dan berteman baik dengan diriku sendiri, dan ternyata itu membuatku merasa lebih baik. Aku juga sudah berdamai dengan masalalu kita, aku tak melupakannya, tidak sekalipun. Kedewasaan membuatku bisa melihat masalalu kita dari sisi yang berbeda.

Asal kau tau saja, Aku masih mencintaimu. Tapi kali ini kedewasaan telah mengajariku mencintaimu dengan cara yang berbeda.

 “Aku mencintaimu, kau tak perlu tahu, kau tak perlu berbuat apa-apa, berbahagialah selalu dengan siapapun yang ada disisimu sekarang. Tak usah perdulikan aku, ini urusanku. Tugasmu hanya berbahagia, itu saja.” seperti itulah kedewasaan mengajari aku cara mencintaimu. Iya, dengan tulus. Dengan diam. Dengan tidak meminta atau mengaharap apa-apa. Dengan melihatmu bahagia saja sudah lebih dari segalanya.


Jika ada yang bilang aku munafik, itu terserah mereka. Mungkin mereka hanya belum merasakannya saja. Yang penting aku bahagia, bahagia dengan seperti ini saja.

Kamis, 04 September 2014

Seharusnya.

Seharusnya, saat kau putuskan untuk pergi kau juga harus membawa pergi ‘barang-barang’mu; memori tentangmu, jangan malah meninggalkannya di kepalaku begitu saja.


Seharusnya saat kau berbalik dan memunggungiku, kau bawa serta juga semua perasaan yang kau berikan kepadaku. Jangan malah membiarkanya berserakan di kepalaku.


Seharusnya, kau kemasi barang-barangmu, kau bawa pergi jauh-jauh sejauh kau meninggalkanku.


Seharusnya, kau bawa pergi ‘barang-barang’mu.. tempatkan di tempat baru yang sekarang kau pilih, bukan malah meninggalkannya disini. Atau kau sengaja meninggalkannya disini.. agar sewaktu-waktu kau bisa ‘pulang’ lagi?




Begitu?

Senin, 01 September 2014

Jauh sebelum mereka berbicara tentang bahagia, kita sudah terlebih dahulu menemukan dan hidup didalamnya.



Jauh sebelum bahagia menjadi sedemikian rumit, kita pernah membungkus bahagia dengan begitu sederhana; hanya dengan duduk berdua, saling menggengam dan membiarkan sepasang mata kita saling berbicara lewat bahasa tanpa suara. Yang dibicarakan mereka adalah; aku, kamu, kita dan bahagia setelahnya.


Jauh sebelum amarah begitu bebal untuk di redakan seperti ini, kita pernah duduk berdua, di trotoar jalan saling diam, saling menyalahkan. Tak jarang aku menangis, tapi setelahnya kau akan memelukku lebih erat dari sebelumnya dan kita akan kembali lagi seperti sedia kala, bahagia. Saat kita bersua, amarah dengan mudah luruh begitu saja. Cinta memang ajaib.


Jauh sebelum rindu menjadi sangat mengesalkan seperti ini, kita pernah saling melipat jarak, demi sebuah temu dan dekap yang hangat, untuk menanggalkan rindu, satu demi satu.


Jauh sebelum ketakutanku tak bisa aku atasi sediri seperti ini, aku pernah memiliki lengan dan pelukmu yang menangkan, katamu; di pelukmu aku bisa berlindung dari apa-apa saja yang bisa menghalangi bahagiaku. Dan aku menjadi pemilik telinga yang setia mendengarkan apa-apa saja yang keluar dari mulutmu, katamu, didengar itu menenangkan dan ketakutamu bisa seketika hilang.


Jauh sebelum kita saling diam seperti ini, kita pernah saling berebut bicara, bertukar tawa, bertukar bahagia, bertukar cangkir kopi dan bertukar pelukan.


Jauh sebelum kau berbalik dan lalu pergi, aku pernah menahanmu, memegangi tanganmu sangat erat, hingga tanggaku sendiri yang kesakitan.


Jauh sebelum punggungmu hilang di ujung jalan, aku masih memelukmu kencang. 


Jauh sebelum kita saling mengukir lara, kita pernah saling mencipta tawa, melarung asa ke langit senja di kota kita, berharap kita dapat bahagia lebih lama dari selamanya.



Kau lupa?