#Sekarang aku sudah tidak menangis lagi jika sedang
merindukanmu.
#Sekarang dadaku sudah tak sakit lagi saat mendengar mereka
menyebut namamu.
#Sekarang hati dan telingaku sudah cukup kuat untuk
mendengar semua hal tentang dirimu.
#Sekarang aku hanya tersenyum saat melihat kumpulan foto-foto
kita, tak lagi menangis dan menyesalinya seperti dulu.
#Sekarang aku terbiasa menikmati cangkir kopiku sendiri,
rasanya tetap nikmat, walaupun lebih
menyenangkan jika kamu ada dan menemani.
Tapi tak apa, nanti aku juga akan terbiasa.
# Sekarang aku sudah tidak mencari kabarmu, atau mencari tau
apa-apa saja tentang hidupmu yang sekarang. Aku berhasil untuk hal ini,
walaupun rasa ingin tahuku terkadang lebih besar dari niatku untuk melupakanmu.
#Aku juga sudah belajar menjadi perempuan yang tegas seperti
katamu.
#Harusnya, sekarang aku menemukan penggantimu. Tapi, untuk
hal ini aku memang belum mau.
# Sekarang aku sudah tahu bagaimnana caranya mengatasi egoku
sendiri agar tidak melukai orang lain.
#Sekarang aku sudah dapat memisahkan mana hal yang harus di
permasalahkan dan mana yang tidak.
#Sekarang aku belajar diam saat emosiku tidak biasa aku
atasi sendiri. Untuk hali ini, kamu yang mengajariku aku berterimakasih
kepadamu.
#Sekarang, aku sudah tak apa-apa saat melihat sebuah potret
seorang perempuan sedang duduk disampingmu, merangkul bahumu; kamu tersenyum
diapun demikian. Aku lihat kamu bahagia dan diapun sama.
Sekarang, aku sudah berdamai dan berteman baik dengan diriku
sendiri, dan ternyata itu membuatku merasa lebih baik. Aku juga sudah berdamai
dengan masalalu kita, aku tak melupakannya, tidak sekalipun. Kedewasaan
membuatku bisa melihat masalalu kita dari sisi yang berbeda.
Asal kau tau saja, Aku masih mencintaimu. Tapi kali ini
kedewasaan telah mengajariku mencintaimu dengan cara yang berbeda.
“Aku mencintaimu, kau
tak perlu tahu, kau tak perlu berbuat apa-apa, berbahagialah selalu dengan
siapapun yang ada disisimu sekarang. Tak usah perdulikan aku, ini urusanku.
Tugasmu hanya berbahagia, itu saja.” seperti itulah kedewasaan mengajari aku
cara mencintaimu. Iya, dengan tulus. Dengan diam. Dengan tidak meminta atau
mengaharap apa-apa. Dengan melihatmu bahagia saja sudah lebih dari segalanya.
Jika ada yang bilang aku munafik, itu terserah mereka.
Mungkin mereka hanya belum merasakannya saja. Yang penting aku bahagia, bahagia dengan seperti ini saja.