Senin, 01 September 2014

Jauh sebelum mereka berbicara tentang bahagia, kita sudah terlebih dahulu menemukan dan hidup didalamnya.



Jauh sebelum bahagia menjadi sedemikian rumit, kita pernah membungkus bahagia dengan begitu sederhana; hanya dengan duduk berdua, saling menggengam dan membiarkan sepasang mata kita saling berbicara lewat bahasa tanpa suara. Yang dibicarakan mereka adalah; aku, kamu, kita dan bahagia setelahnya.


Jauh sebelum amarah begitu bebal untuk di redakan seperti ini, kita pernah duduk berdua, di trotoar jalan saling diam, saling menyalahkan. Tak jarang aku menangis, tapi setelahnya kau akan memelukku lebih erat dari sebelumnya dan kita akan kembali lagi seperti sedia kala, bahagia. Saat kita bersua, amarah dengan mudah luruh begitu saja. Cinta memang ajaib.


Jauh sebelum rindu menjadi sangat mengesalkan seperti ini, kita pernah saling melipat jarak, demi sebuah temu dan dekap yang hangat, untuk menanggalkan rindu, satu demi satu.


Jauh sebelum ketakutanku tak bisa aku atasi sediri seperti ini, aku pernah memiliki lengan dan pelukmu yang menangkan, katamu; di pelukmu aku bisa berlindung dari apa-apa saja yang bisa menghalangi bahagiaku. Dan aku menjadi pemilik telinga yang setia mendengarkan apa-apa saja yang keluar dari mulutmu, katamu, didengar itu menenangkan dan ketakutamu bisa seketika hilang.


Jauh sebelum kita saling diam seperti ini, kita pernah saling berebut bicara, bertukar tawa, bertukar bahagia, bertukar cangkir kopi dan bertukar pelukan.


Jauh sebelum kau berbalik dan lalu pergi, aku pernah menahanmu, memegangi tanganmu sangat erat, hingga tanggaku sendiri yang kesakitan.


Jauh sebelum punggungmu hilang di ujung jalan, aku masih memelukmu kencang. 


Jauh sebelum kita saling mengukir lara, kita pernah saling mencipta tawa, melarung asa ke langit senja di kota kita, berharap kita dapat bahagia lebih lama dari selamanya.



Kau lupa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar