Jauh sebelum
bahagia menjadi sedemikian rumit, kita pernah membungkus bahagia dengan begitu
sederhana; hanya dengan duduk berdua, saling menggengam dan membiarkan sepasang
mata kita saling berbicara lewat bahasa tanpa suara. Yang dibicarakan mereka
adalah; aku, kamu, kita dan bahagia setelahnya.
Jauh sebelum
amarah begitu bebal untuk di redakan seperti ini, kita pernah duduk berdua, di
trotoar jalan saling diam, saling menyalahkan. Tak jarang aku menangis, tapi
setelahnya kau akan memelukku lebih erat dari sebelumnya dan kita akan kembali
lagi seperti sedia kala, bahagia. Saat kita bersua, amarah dengan mudah luruh
begitu saja. Cinta memang ajaib.
Jauh sebelum
rindu menjadi sangat mengesalkan seperti ini, kita pernah saling melipat jarak,
demi sebuah temu dan dekap yang hangat, untuk menanggalkan rindu, satu demi
satu.
Jauh sebelum
ketakutanku tak bisa aku atasi sediri seperti ini, aku pernah memiliki lengan
dan pelukmu yang menangkan, katamu; di pelukmu aku bisa berlindung dari apa-apa
saja yang bisa menghalangi bahagiaku. Dan aku menjadi pemilik telinga yang
setia mendengarkan apa-apa saja yang keluar dari mulutmu, katamu, didengar itu
menenangkan dan ketakutamu bisa seketika hilang.
Jauh sebelum
kita saling diam seperti ini, kita pernah saling berebut bicara, bertukar tawa,
bertukar bahagia, bertukar cangkir kopi dan bertukar pelukan.
Jauh sebelum
kau berbalik dan lalu pergi, aku pernah menahanmu, memegangi tanganmu sangat
erat, hingga tanggaku sendiri yang kesakitan.
Jauh sebelum
punggungmu hilang di ujung jalan, aku masih memelukmu kencang.
Jauh sebelum
kita saling mengukir lara, kita pernah saling mencipta tawa, melarung asa ke
langit senja di kota kita, berharap kita dapat bahagia lebih lama dari selamanya.
Kau lupa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar