Minggu, 13 Juli 2014

Surat Terakhir Rey.



Aku Pulang, Nay.
By : Adilah Farkha



 
Teruntuk kau yang datang dan berlalu seperti angin,
Apa kabarmu Nay? Kau masih suka kopi tanpa gula yang katamu enak?
Aku merindukanmu Nay, lagi dan kali ini aku hampir tak bisa menahannya. Dadaku sesak, kali ini bukan karna asap rokok yang terlalu banyak aku hisap, Ini karnamu. Di sini, di tempat kita dulu sering mengumpulkan tawa bersama,di depan cangkir kopi kesukaanmu, dan dua bungkus rokok yang sudah hampir habis… aku merindukan senyummu, aku merindukan tawamu, aku merindukan segalamu

 Aku berhenti menulis, ku hempaskan punggungku pada sandaran kursi. Di luar hujan, fikiranku kembali melayang, mundur pada putaran waktu 6 tahun silam.

***

 “Jangan ngerokok lagi, Rey” katamu sambil mencoba mengabil rokok yang baru saja aku nyalakan.

Kembali aku hanya bisa pasrah dan menahan rasa kecut di mulut. Ya, aku adalah perokok berat, aku bisa menghabiskan beberapa bungkus rokok dalam sehari.

“Kamu tahu Rey kenapa aku nggak ngebolehin kamu ngrokok?”

“Karna merokok itu tidak baik untuk kesehatan.” Jawabku asal sambil mencoba mengambil rokok di kantongku dan mencoba untuk menyalakannya.

“Rey.. kau tau kan, membakar rokok dan menghirup asapnya kedalam paru-parumu sama saja memperpendek umurmu, paru-parumu hanya akan berfungsi sampai kau berumur 40th  apa kau tak mau hidup lebih lama dari itu? apa susahnya berhenti merokok sih Rey! Apa kaukira paru-parumu itu ada serepnya yang kalo rusak bisa diganti lagi! Apa kau kira kau itu kucing yang punya sembilan nyaw…” kau mulai kesal waktu itu, aku hanya tertawa mendengar ocehanmu. Bukan, bukan karena alasanmu melarangku merokok yang membuatku tertawa, tapi karna caramu berbicara, bagaimana bisa kau berbicara begitu panjang lebar hanya dengan satu tarikan nafas.

“Berhenti tertawa Rey!!” kau bernar-benar kesal waktu itu.

“Nay.. Kalau pun aku harus meninggal diusia 40th, setidaknya aku beruntung pernah menjadi lelakimu” aku tersenyum dan kembali menghembuskan asap rokok keudara.

“Tapi Rey, aku hanya ingin lebih lama bersamamu, bukan hanya untuk hari ini, bukan hanya untuk besok, bukan hanya sampai kita berumur 40th, aku ingin bersama denganmu.. selamanya Rey. Kau tahu kan Rey.. selamanya itu sangat lama, tak terbatas waktu. Aku ingin itu.” Air mukamu mendadak berubah menjadi serius, kau menatapku lekat, ada ketakutan yang tersirat disana. Dimatamu.

“Oke Nonaa.. kau menang” aku mamatikan rokok yang baru sekali aku hisap. Ada senyum yang terukir indah saat aku menatapnya. Aku sangat beruntung karna pemilik sekaligus pencipta senyum indahnya itu adalah aku.

***

Kesadaranku kembali, aku kembali menulis surat, iya surat yang tak pernah tersampaikan, surat untuk Nay. Semenjak kepergiannya yang entah kemana, aku sering menuliskan surat untuknya, sekedar untuk melepas rindu.

Aku hanya ingin bersama denganmu lebih lama Rey..”
Entah bagaimana bisa keliamatmu itu selalu terngiang saat aku hendak menyalakan rokok.
Terngiang setiap hari hampir tanpa jeda selama 6 tahun.
Kau masuk dan mengubah segala yang ada di hidupku,kau mengembalikan sesuatu yang dulu pernah hilang dalam hidupku. Entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan hadirmu bahkan aku mulai bergantung padamu. Yang aku tahu kau selalu ada disini saat fajar menjelang  hingga senja tenggelam, bahkan kau tak pergi sekalipun aku tertidur, ya.. kau selalu ada di sana.. tersenyum indah di dalam mimpiku.

“Lihat aku sekarang Nay, aku yang tanpamu. Bagaimana bisa kau yang dulu selalu ada kini berlalu entah kemana. Bagaimana bisa kau pergi tanpa ucapan selamat tinggal. Bagaimana bisa kau datang dan pergi tanpa permisi. Kau bilang kau ingin bersamaku lebih lama, tapi bagaimana bisa justru kau yang pergi dan menghilang, bagimana bisa Nay.. jelaskan padaku. Kau tahu Nay, semenjak kau memarahi ku waktu itu karna aku terlalu banyak merokok, seketika itu juga akuberhenti merokok karna kata-kata ajaibmu, tapi lihat aku sekarang Nay, lihat aku setelah kepergianmu, harusnya kau datang dan memarahiku, iya memarahiku karena aku terlalu banyak merokok.”

Aku terhenti pada kalimat terakhir, entah mengapa mendadak aku menjadi gusar. Aku kembali menyalakan rokok dan menghirupnya dalam-dalam menyebulkan asapnya ke awang-awang. Dadaku bertambah sesak aku terbatuk. Ku teguk kopi hitam yang sudah dingin berharap rasa getir kopi itu bisa membuatku lebih baik. Dan benar aku merasa lebih baik, kemudian aku kembali menulis.

“ Enam tahun Nay, di hari ketika kusadari kau tak lagi ada, aku tak pernah berhenti mencarimu,aku tak pernah berhenti merindukanmu, aku tak pernah berhenti mencintaimu, tidak sekalipun Nay. Enam tahun sudah Nay, apa saja yang sudah terjadi padamu? Apa kau sudah menikah ? atau mungkin sekarang kau sudah memiliki seorang putri yang mempunyai senyum dan mata seindah milikmu? Kalaupun benar Nay, pria itu pastilah sangat beruntung, dan aku akan sangat iri. Setidaknya jika kau kini sudah berbahagia, beritahu aku, aku akan turut berbahagia untukmu. Setidaknya jika sekarang kau berbahagia, aku ingin melihat senyummu walaupun sekali, walaupun itu bukan untukku. Sekali saja Nay.
Nay, Setiap rindu punya alamatnya masing-masing, tapi tidak semua rindu dapat sampai pada tujuan dengan selamat. Semoga rinduku sampai padamu dengan selamat, dengan utuh. Semoga kau selalu bahagia disana, dan semoga Tuhan mau berbaik hati mempertemukanku denganmu lagi. Aku merindukanmu Nay, teramat sangat rindu.

-Aku, Rahardian Esa Yudisthira mencintaimu dengan sangat, Najwa Aleya Yasmin. –

Pada kalimat terakhir aku terbatuk, lagi dan lebih parah dari sebelumnya, getirnya kopi pun tak dapat meredakan batukku, dadaku sesak sangat sesak, kepalaku pening, kututupi mulutku dengan tangan kananku berharap itu dapat meredakan batukku namun yang aku dapati justru gumpalan cairan berwarna merah di tangan kananku. Darah, aku terkejut, pandanganku mendadak kabur, dadaku nyeri hebat dan mendadak semua menjadi gelap. Gelap. Aku seperti terdampar di dalam ruangan yang sangat gelap, sampai akhirnya setitik cahaya datang, membias menjadi sangat terang, minyilaukan mata, kini aku seperti berada di dalam ruangan yang penuh dengan cahaya, putih.

Aku coba membuka mata, dan aku melihat senyum yang sangat aku rindukan... “kau kah itu Nay? Benarkah itu kau ? tenyata selama ini kau..?” airmataku meleleh. “Aku tak pernah pergi Rey, tidak sekalipun, aku hanya berpidah tempat, ketempat yang lebih damai. Tuhan yang membawaku kesini, maaf jika aku tak sempat pamit padamu. Aku juga merindukanmu Rey, sekarang rindumu sudah sampai, dengan selamat dan utuh” Nay terseyum dan melambaikan tangan kearahku, Nay sangat cantik dengan gaun putih itu, kuraih tangannya, seketika aku merasa ada rasa hangat yang mnyeruak didalam dada dan aku merasa jiwaku melayang bebas, aku melihat tubuhku di kerumuni para pengunjung caffe sore itu.
Rinduku telah sampai dengan selamat. Dengan utuh.
Aku pulang ke sisi-Mu untuk berterimakasih pada-Mu, Tuhan. Terimakasih telah mengabulkan doa terakhirku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar