Aku Pulang, Nay.
By : Adilah Farkha
Teruntuk kau yang datang dan berlalu
seperti angin,
Apa kabarmu Nay?
Kau masih suka kopi tanpa gula yang katamu enak?
Aku merindukanmu
Nay, lagi dan kali ini aku hampir tak bisa menahannya. Dadaku sesak, kali ini bukan
karna asap rokok yang terlalu banyak aku hisap, Ini karnamu. Di sini, di tempat
kita dulu sering mengumpulkan tawa bersama,di depan cangkir kopi kesukaanmu,
dan dua bungkus rokok yang sudah hampir habis… aku merindukan senyummu, aku
merindukan tawamu, aku merindukan segalamu”
Aku berhenti menulis,
ku hempaskan punggungku pada sandaran kursi. Di luar hujan, fikiranku kembali
melayang, mundur pada putaran waktu 6 tahun silam.
***
“Jangan
ngerokok lagi, Rey” katamu sambil mencoba mengabil rokok yang baru saja aku
nyalakan.
Kembali aku hanya bisa pasrah dan
menahan rasa kecut di mulut. Ya, aku adalah perokok berat, aku bisa
menghabiskan beberapa bungkus rokok dalam sehari.
“Kamu tahu Rey kenapa aku nggak
ngebolehin kamu ngrokok?”
“Karna merokok itu tidak baik untuk
kesehatan.” Jawabku asal sambil mencoba mengambil rokok di kantongku dan
mencoba untuk menyalakannya.
“Rey.. kau tau kan, membakar rokok dan
menghirup asapnya kedalam paru-parumu sama saja memperpendek umurmu, paru-parumu
hanya akan berfungsi sampai kau berumur 40th apa kau tak mau hidup lebih lama dari
itu? apa susahnya berhenti merokok sih Rey! Apa kaukira paru-parumu itu ada serepnya
yang kalo rusak bisa diganti lagi! Apa kau kira kau itu kucing yang punya
sembilan nyaw…” kau mulai kesal waktu itu, aku hanya tertawa mendengar
ocehanmu. Bukan, bukan karena alasanmu melarangku merokok yang membuatku
tertawa, tapi karna caramu berbicara, bagaimana bisa kau berbicara begitu
panjang lebar hanya dengan satu tarikan nafas.
“Berhenti tertawa Rey!!” kau
bernar-benar kesal waktu itu.
“Nay.. Kalau pun aku harus meninggal diusia
40th, setidaknya aku beruntung pernah menjadi lelakimu” aku
tersenyum dan kembali menghembuskan asap rokok keudara.
“Tapi Rey, aku hanya ingin lebih lama
bersamamu, bukan hanya untuk hari ini, bukan hanya untuk besok, bukan hanya
sampai kita berumur 40th, aku ingin bersama denganmu.. selamanya Rey.
Kau tahu kan Rey.. selamanya itu sangat lama, tak terbatas waktu. Aku ingin
itu.” Air mukamu mendadak berubah menjadi serius, kau menatapku lekat, ada
ketakutan yang tersirat disana. Dimatamu.
“Oke Nonaa.. kau menang” aku mamatikan
rokok yang baru sekali aku hisap. Ada senyum yang terukir indah saat aku
menatapnya. Aku sangat beruntung karna pemilik sekaligus pencipta senyum
indahnya itu adalah aku.
***
Kesadaranku kembali, aku kembali menulis
surat, iya surat yang tak pernah tersampaikan, surat untuk Nay. Semenjak
kepergiannya yang entah kemana, aku sering menuliskan surat untuknya, sekedar
untuk melepas rindu.
“Aku hanya ingin bersama denganmu lebih lama Rey..”
Entah bagaimana
bisa keliamatmu itu selalu terngiang saat aku hendak menyalakan rokok.
Terngiang setiap
hari hampir tanpa jeda selama 6 tahun.
Kau masuk dan
mengubah segala yang ada di hidupku,kau mengembalikan sesuatu yang dulu pernah
hilang dalam hidupku. Entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan hadirmu
bahkan aku mulai bergantung padamu. Yang aku tahu kau selalu ada disini saat
fajar menjelang hingga senja tenggelam,
bahkan kau tak pergi sekalipun aku tertidur, ya.. kau selalu ada di sana..
tersenyum indah di dalam mimpiku.
“Lihat aku
sekarang Nay, aku yang tanpamu. Bagaimana bisa kau yang dulu selalu ada kini berlalu
entah kemana. Bagaimana bisa kau pergi tanpa ucapan selamat tinggal. Bagaimana
bisa kau datang dan pergi tanpa permisi. Kau bilang kau ingin bersamaku lebih
lama, tapi bagaimana bisa justru kau yang pergi dan menghilang, bagimana bisa
Nay.. jelaskan padaku. Kau tahu Nay, semenjak kau memarahi ku waktu itu karna
aku terlalu banyak merokok, seketika itu juga akuberhenti merokok karna
kata-kata ajaibmu, tapi lihat aku sekarang Nay, lihat aku setelah kepergianmu,
harusnya kau datang dan memarahiku, iya memarahiku karena aku terlalu banyak
merokok.”
Aku terhenti pada kalimat terakhir,
entah mengapa mendadak aku menjadi gusar. Aku kembali menyalakan rokok dan
menghirupnya dalam-dalam menyebulkan asapnya ke awang-awang. Dadaku bertambah
sesak aku terbatuk. Ku teguk kopi hitam yang sudah dingin berharap rasa getir
kopi itu bisa membuatku lebih baik. Dan benar aku merasa lebih baik, kemudian
aku kembali menulis.
“ Enam tahun Nay,
di hari ketika kusadari kau tak lagi ada, aku tak pernah berhenti mencarimu,aku
tak pernah berhenti merindukanmu, aku tak pernah berhenti mencintaimu, tidak
sekalipun Nay. Enam tahun sudah Nay, apa saja yang sudah terjadi padamu? Apa
kau sudah menikah ? atau mungkin sekarang kau sudah memiliki seorang putri yang
mempunyai senyum dan mata seindah milikmu? Kalaupun benar Nay, pria itu
pastilah sangat beruntung, dan aku akan sangat iri. Setidaknya jika kau kini
sudah berbahagia, beritahu aku, aku akan turut berbahagia untukmu. Setidaknya jika
sekarang kau berbahagia, aku ingin melihat senyummu walaupun sekali, walaupun
itu bukan untukku. Sekali saja Nay.
Nay, Setiap rindu
punya alamatnya masing-masing, tapi tidak semua rindu dapat sampai pada tujuan
dengan selamat. Semoga rinduku sampai padamu dengan selamat, dengan utuh.
Semoga kau selalu bahagia disana, dan semoga Tuhan mau berbaik hati mempertemukanku
denganmu lagi. Aku merindukanmu Nay, teramat sangat rindu.
-Aku, Rahardian
Esa Yudisthira mencintaimu dengan sangat, Najwa Aleya Yasmin. –
Pada kalimat terakhir aku terbatuk, lagi
dan lebih parah dari sebelumnya, getirnya kopi pun tak dapat meredakan batukku,
dadaku sesak sangat sesak, kepalaku pening, kututupi mulutku dengan tangan
kananku berharap itu dapat meredakan batukku namun yang aku dapati justru
gumpalan cairan berwarna merah di tangan kananku. Darah, aku terkejut,
pandanganku mendadak kabur, dadaku nyeri hebat dan mendadak semua menjadi
gelap. Gelap. Aku seperti terdampar di dalam ruangan yang sangat gelap, sampai
akhirnya setitik cahaya datang, membias menjadi sangat terang, minyilaukan mata,
kini aku seperti berada di dalam ruangan yang penuh dengan cahaya, putih.
Aku coba membuka mata, dan aku melihat
senyum yang sangat aku rindukan... “kau kah itu Nay? Benarkah itu kau ? tenyata
selama ini kau..?” airmataku meleleh. “Aku tak pernah pergi Rey, tidak
sekalipun, aku hanya berpidah tempat, ketempat yang lebih damai. Tuhan yang
membawaku kesini, maaf jika aku tak sempat pamit padamu. Aku juga merindukanmu
Rey, sekarang rindumu sudah sampai, dengan selamat dan utuh” Nay terseyum dan melambaikan
tangan kearahku, Nay sangat cantik dengan gaun putih itu, kuraih tangannya,
seketika aku merasa ada rasa hangat yang mnyeruak didalam dada dan aku merasa
jiwaku melayang bebas, aku melihat tubuhku di kerumuni para pengunjung caffe
sore itu.
Rinduku telah sampai dengan selamat.
Dengan utuh.
Aku pulang ke sisi-Mu untuk
berterimakasih pada-Mu, Tuhan. Terimakasih telah mengabulkan doa terakhirku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar