Jalanan
Sepi di kota ini paling pandai membicarakanmu dalam bahasa rindu yang paling
merdu.
Hujan
di kota ini juga pandai menghasut hasrat untuk selalu mengingat semua hal yang
pernah kita lakukan di bawah rintiknya.
Lampu-lampu
jalanan di kotaku gemar menceritakan segala hal tentangmu dengan lantang kepada
para gemintang di langit yang kelam.
Cangkir-cangkir
kopi di kedai tua itu dengan malu-malu menceritakan tentang senyummu yang
begitu madu dan candu.
Angin
sore di kota ini menjadi satu-satunya pengingat, bahwa tak ada lagi pelukmu
yang hangat, saat dingin hembusnya mendekap erat.
Senja
di kota ini adalah hal yang selalu dapat membuatku selalu jatuh cinta kepadamu,
setiap waktu.
Senja
di kota ini jua lah yang membuatku dapat merasakan hangatnya pelukmu setiap
waktu.
Dinding di
kamar ini menceritakan batapa bodohnya aku yang masih saja menjadi pendengar
setia saat semesta menceritakan semua tentangmu dengan begitu fasihnya.
Bodohnya aku, masih saja gembira bila mendengar apa-apa saja yang tentangmu, padahal
setelah itu,pastilah rinduku akan menjelma menjadi begitu hening, dan lalu… kembali
berharap kau akan datang mengusir hening, mengecup kening yang tengah pening.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar