Senin, 08 September 2014

Sekarang.

#Sekarang aku sudah tidak menangis lagi jika sedang merindukanmu.

#Sekarang dadaku sudah tak sakit lagi saat mendengar mereka menyebut namamu.

#Sekarang hati dan telingaku sudah cukup kuat untuk mendengar semua hal tentang dirimu.

#Sekarang aku hanya tersenyum saat melihat kumpulan foto-foto kita, tak lagi menangis dan menyesalinya seperti dulu.

#Sekarang aku terbiasa menikmati cangkir kopiku sendiri, rasanya tetap nikmat, walaupun lebih 
menyenangkan jika kamu ada dan menemani. Tapi tak apa, nanti aku juga akan terbiasa.

# Sekarang aku sudah tidak mencari kabarmu, atau mencari tau apa-apa saja tentang hidupmu yang sekarang. Aku berhasil untuk hal ini, walaupun rasa ingin tahuku terkadang lebih besar dari niatku untuk melupakanmu.

#Aku juga sudah belajar menjadi perempuan yang tegas seperti katamu.

#Harusnya, sekarang aku menemukan penggantimu. Tapi, untuk hal ini aku memang belum mau.

# Sekarang aku sudah tahu bagaimnana caranya mengatasi egoku sendiri agar tidak melukai orang lain.

#Sekarang aku sudah dapat memisahkan mana hal yang harus di permasalahkan dan mana yang tidak.

#Sekarang aku belajar diam saat emosiku tidak biasa aku atasi sendiri. Untuk hali ini, kamu yang mengajariku aku berterimakasih kepadamu.

#Sekarang, aku sudah tak apa-apa saat melihat sebuah potret seorang perempuan sedang duduk disampingmu, merangkul bahumu; kamu tersenyum diapun demikian. Aku lihat kamu bahagia dan diapun sama.



Sekarang, aku sudah berdamai dan berteman baik dengan diriku sendiri, dan ternyata itu membuatku merasa lebih baik. Aku juga sudah berdamai dengan masalalu kita, aku tak melupakannya, tidak sekalipun. Kedewasaan membuatku bisa melihat masalalu kita dari sisi yang berbeda.

Asal kau tau saja, Aku masih mencintaimu. Tapi kali ini kedewasaan telah mengajariku mencintaimu dengan cara yang berbeda.

 “Aku mencintaimu, kau tak perlu tahu, kau tak perlu berbuat apa-apa, berbahagialah selalu dengan siapapun yang ada disisimu sekarang. Tak usah perdulikan aku, ini urusanku. Tugasmu hanya berbahagia, itu saja.” seperti itulah kedewasaan mengajari aku cara mencintaimu. Iya, dengan tulus. Dengan diam. Dengan tidak meminta atau mengaharap apa-apa. Dengan melihatmu bahagia saja sudah lebih dari segalanya.


Jika ada yang bilang aku munafik, itu terserah mereka. Mungkin mereka hanya belum merasakannya saja. Yang penting aku bahagia, bahagia dengan seperti ini saja.

2 komentar: